Tampilkan postingan dengan label Politic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politic. Tampilkan semua postingan

Juli 11, 2012

Quick Count Hampir Tuntas, Jokowi Tetap Tak Terkejar


Jakarta Perhitungan cepat (quick count) dari berbagai lembaga survei sudah hampir tuntas. Total suara yang masuk ke lembaga-lembaga survei hampir 100 persen. Hasilnya Jokowi-Ahok tetap unggul, tak terkejar oleh para pesaingnya.

Dari berbagai lembaga quick count itu, selisih suara antara Jokowi dengan Foke cukup jauh. Rata-rata selisih suara Jokowi dengan Foke sekitar 9 persen.

Berikut data quick count beberapa lembaga survei hingga Rabu (11/7/2012) pukul 16.20 WIB:


Quick count Prisma yang ditayangkan RCTI, suara masuk sudah 97,4%. Hasil sementara Jokowi-Ahok mendapat 42,75% dan Foke-Nara mendapat 34,53%.
Quick Count Indobarometer yang ditayangkan Metro TV, suara masuk sudah 86%. Hasil sementara Jokowi-Ahok meraih 42,9 % dan Foke-Nara meraih 33,6 %.

Quick count Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang ditayangkan Indosiar, suara masuk sudah 93,66%. Hasil sementara Jokowi-Ahok meraup 42,56% dan Foke Nara meraup 33,60 %.

Quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang ditayangkan TVOne, suara masuk sudah 96%. Hasil sementara Jokowi-Ahok mendulang 43,04% dan Foke-Nara 34.17 % mendulang.

Juli 10, 2012

Geliat DKI-1


Sesaat menjelang pilgub DKI-1
Sebanyak 21.344 data pemilih terindikasi ganda pada Daftar Pemilih Tetap (DPT) dihapus sesuai keputusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) pekan lalu. Total DPT pun berubah dari 6.983.692 pemilih menjadi 6.962.348.

Berikut nomor urut pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur dalam Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta :
1.    DR. Ing. H. Fauzi Bowo – Mayjen (Purn) H. Nachrowi Ramli, SE.
2.    Mayjen TNI (Purn) Drs. H. Hendardji Soepandji, SH. – Ir. H. A. Riza Patria, MBA
3.    Ir. H. Joko Widodo – Ir. Basuki Tjahaja Purnama, MM.
4.    DR. H. M. Hidayat Nur Wahid, MA. – Prof. DR. Didik Junaedi Rachbini.
5.    Faisal Batubara – Biem Triani Benyamin
6.    Ir. H. Alex Noerdin, SH. – Letjen Marinir (Purn) H. Nono Sampono

Juni 09, 2012

Dr. Rustam Effendy Nainggolan, MM (Dr.R.E. Nainggolan, MM) CAGUBSU PDS


Foto: FOTO BERSAMA Ketua Umum DPP PDS Denny Tewu (keempat dari kiri) dan Sekjen DPP
PDS Sahat Sinaga (kiri) didampingi Ketua DPW PDS Sumut Toga Sianturi (ketiga dari kanan)
berfoto bersama RE Nainggolan serta sejumlah pengurus seusai Rakerwil II PDS Sumut di Hotel
Antares Medan, Jumat, 09 Juni 2012. Rakerwil II PDS ini merupakan rekonsolidasi menyambut
Pemilu 2014 sekaligus membahas penetapan RE Nainggolan sebagai Cagubsu. ( medanbisnis/cf02)
<><>

 
MedanBisnis – Medan. Partai Damai Sejahtera (PDS) memutuskan mengusung Dr Rustam Effendi (RE) Nainggolan sebagai calon Gubernur Sumatera Utara (Cagubsu) dalam Pilgubsu 7 Maret 2013. Pengumuman penetapan RE dilakukan pada Rapat Pimpinan Wilayah II PDS Sumut, di Hotel Antares, Jalan Sisingamangaraja, Medan Jumat (8/6) malam.
"Kita sudah memutuskan Bapak RE Nainggolan menjadi Calon Gubernur Sumut dari PDS," ujar Ketua Umum DPP PDS Denny Tewu, yang disambut aplaus para peserta Rapimwil.
Denny mengajak semua kader dan simpatisan partai untuk berjuang memenangkan RE Nainggolan melalui nilai-nilai kasih dan kejujuran. Soal kalah dan menang dalam pertarungan, menurut Denny, soal belakangan.
"Yang terpenting kita harus berjuang dengan nilai kasih untuk mewujudkan Sumut lebih baik," tegasnya.
Sekjen DPP PDS, Sahat Sinaga, menyebutkan, alasan utama partainya mengusung RE Nainggolan sebagai Cagubsu karena mantan Sekdapropsu itu bias diterima seluruh lapisan masyarakat.
"Setelah melalui proses komunikasi panjang dengan pimpinan gereja di Sumut, tokoh masyarakat, internal pimpinan, tokoh masyarakat di luar Kristen, kita berkesimpulan RE diterima semua pihak," ujar Sahat.
Dia menegaskan, Rapimwil yang digelar, salah satu agendanya membahas pemenangan RE Nainggolan sebagai gubernur, termasuk membahas rencana koalisi dengan partai politik lain. Pasalnya, PDS yang hanya memperoleh 5 kursi di DPRD Sumut belum memenuhi syarat untuk mengusung sendiri pasangan calon yakni minimal 15% suara.
Kriteria pendamping RE Nainggolan yang diinginkan harus bisa bekerja sama, punya track record baik, sama baiknya dengan RE Nainggolan dalam kehidupan sehari maupun profesinya, menjunjung pluralisme, karena kita bekerja untuk seluruh masyarakat dan yang paling penting juga bisa menopang kemenangan RE sebagai gubernur," urai Sahat.
"Kami perlukan 10 kursi lagi. Dalam hitung-hitungan kami, pasti dapat," ujarnya.
Konteks Kebangsaan
Dr RE Nainggolan mengaku penetapan dirinya sebagai Cagubsu PDS adalah bagian tanggungjawab besar yang harus diemban dengan sebaik-baiknya. Menurut mantan Bupati Tapanuli Utara ini, semua yang dikerjakan harus senantiasa dalam konteks kebangsaan, pluralisme dan negara kesatuan.
"Yang saya maksud, kita semua harus memberi perhatian untuk masyarakat dimanapun kita berada dan apapun latar belakangnya. Itu mungkin yang harus diwujudkan," kata RE.
RE mengakui PDS belum memenuhi syarat kursi atau suara untuk mengusungnya sebagai Cagubsu. Namun, terangnya, penetapan dirinya sebagai Cagubsu merupakan langkah maju, karena dilakukan jauh sebelum Pilgubsu digelar.
"Mengenai pasangan pendamping, sedang kita pertimbangkan, dimatangkan secara benar. Yang terpenting punya visi misi yang sama membangun Sumut lebih baik," ujarnya.
PDS merupakan partai ketiga yang sudah menetapkan Cagubsu. Sebelumnya, PPP merekomendasikan Fadly Nurzal yang juga Ketua DPW PPP Sumut dan PKS mengusung Gatot Pujo Nugroho menjadi calonnya.
Dalam pencalonan Gubsu ini, RE juga mendaftar lewat PDIP Sumut. Ia juga disebut-sebut calon kuat dari partai berlambang kepala banteng tersebut, bersaing dengan Gus Irawan, Benny Pasaribu dan HT Erry Nuradi. ( irvan sugito/daniel pekuwali)

Mei 02, 2012

Survei Sementara Pilgubsu 2013-2018



Medan, (Analisa). Meneg Kominfo Tifatul Sembiring meski tidak diusung partainya pada Pemilihan Gubernur Sumatera Utara (Pilgubsu) 2013 mendatang, mampu berada di tempat kedua sebagai Gubernur Sumut, jika Pilgubsu dilaksanakan saat ini. Dipilih oleh 29,8 persen responden, Tifatul hanya kalah 0,4 persen dibanding Gus Irawan yang unggul karena dipilih 30,2 persen responden.
Demikian hasil survei untuk periode Januari-Maret 2013 yang dilakukan Lembaga Konsultan Komunikasi ‘Citra Media Komunikasi’ yang disampaikan Direktur Program, H Idrus Djoenaidi, didampingi Sekretaris Eksekutif, Indra Gunawan, kepada pers, Senin (30/4).

Mereka menjelaskan, setelah Gus Irawan dan Tifatul Sembiring disusul Gatot Pujonugroho (18,3 persen) dan RE Nainggolan (17,9 persen). Keempat nama tersebut dipilih dari 14 tokoh yang dikenal oleh responden di 33 kabupaten/kota se Sumatera Utara. Dari aspek keterkenalan (popularitas), Tifatul juga unggul karena dikenal oleh 10,5 persen responden, disusul Irjen Pol Wisjnu AS (10,4 persen), Gus Irawan (10,2 persen), Gatot Pujonugroho (10,1 persen), Chairuman Harahap (8,1 persen), Mayjen AY Nasution (7,5 persen), Parlindungan Purba (5,8 persen), Rahmat Shah (5,7 persen), RE Nainggolan (5,6 persen) dan Abdillah (5,1 persen).

Beberapa nama yang dikenal responden di bawah angka lima persen diantaranya Fadly Nurzal (4,6 persen), Syah Affandin (3,9 persen), T. Ery Nuradi (3,7 persen) dan HT Milwan (3,4 persen).
"Ada beberapa nama yang mempunyai tingkat popularitasnya tinggi, namun tingkat elektabilitasnya (keterpilihannya) rendah untuk dipilih sebagai Gubernur Sumut," kata Idrus Djoenaidi.

Dari delapan besar nama yang kemudian ditawarkan kepada responden, - Gus Irawan 18,1 %
- Tifatul Sembiring 17,8 %
- Gatot Pujonugroho 15,7 %
- RE Nainggolan 15,2 %

Chairuman Harahap (10,2 persen), Mayjen TNI AY Nasution (9,3 persen), Irjen Pol Wisjnu AS (6,1 persen) dan Abdillah memperoleh dukungan 5,8 persen.

Putera daerah
Gus Irawan unggul dipilih responden dengan alasan putera daerah (16,5 persen), jujur dan bisa dipercaya (15,2 persen), bersih dari korupsi dan KKN (15,1 persen), mampu berkomunikasi secara baik dengan semua fihak (14,4 persen), berjiwa sosial dan peduli kepada rakyat (13,1 persen), mampu mengambil keputusan dan memerintah dengan tegas (12,8 persen), dan pintar (10,3 persen). Sisanya menjawab tidak tahu.

Lebih lanjut Idrus menjelaskan, survei tersebut juga menyimpulkan bahwa pemilih di Sumatera Utara belum menjadi pemilih cerdas. Misalnya saat menjawab sifat kepemimpinan yang paling penting dimiliki seorang Gubernur Sumut, sebanyak 15,6 persen responden menjawab Gubernur Sumut haruslah putera daerah.

Demikian pula ketika menyebutkan alasan responden memilih 15 nama yang ditawarkan sebagai Gubernur Sumut, selain menjawab putera daerah (13,5 persen), juga karena kandidat berasal dari keluarga tokoh masyarakat (10,2 persen) dan tokoh ormas Islam (9,1 persen).

Sementara itu Sekretaris Eksekutif Lembaga Konsultan Komunikasi "Citra Media Komunikasi", Indra Gunawan, menyebutkan survei Pilgubsu yang dilakukan untuk triwulan-I tahun 2012 ini, memilih responden dari 33 kab/kota dengan pola multistage random sampling dan mempunyai toleransi kesalahan (margin of error) +/- 5 persen.

Survei ini, kata Indra Gunawan, sebagai partisipasi pihaknya untuk menjadikan Pilgubsu 2013 sebagai momen membangun Sumatera Utara menjadi lebih baik. Untuk tahap berikutnya, survei yang sama akan dilaksanakan untuk priode April-Juni 2012, dan hasilnya sudah bisa dipublikasikan pada bulan Juli 2012. (rrs)

Maret 10, 2012

PDIP Beri Sinyal ke RE Nainggolan


POLITIK - PILKADA
Jum'at, 09 Maret 2012 , 10:21:00

JAKARTA - Hingga kemarin Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belum menentukan nama yang akan dielus-elus untuk menjadi calon gubernur atau wakil gubernur Sumut pada pemilukada 2013.  Hanya saja, dari nama-nama yang sudah beredar, PDIP mulai melirik RE Nainggolan.

Politisi senior yang juga salah seorang pendiri PDIP, Sabam Sirait, kepada JPNN di Jakarta, kemarin, malah sempat cerita masa lalunya yang akrab dengan keluarga besar RE Nainggolan, khususnya dengan salah satu abangnya RE Nainggolan yang menjadi pengusaha di Jakarta, dengan merintis usaha dari bawah. Hanya saja Sabam tidak menyebut nama abangnya RE Nainggolan itu.

Pemilik nama lengkap Sabam Gunung Panangian Sirait itu memang mengaku tidak kenal dekat dengan RE Nainggolan. Hanya saja, lanjutnya, dulu sewaktu RE Nainggolan masih menjabat Bupati Tapanuli Utara (Taput), dirinya pernah bertemu mantan Sekda Sumut itu.

"Di Taput itu, sewaktu Nainggolan itu jadi bupati, pertama kalinya saya makan kuda," ujar Sabam Sirait, yang sudah tampak sepuh dan jalannya harus dipegangi tangannya oleh ajudannya  itu.

Jadi, PDIP akan mengusung RE Nainggolan? Sabam tidak memberikan jawaban tegas. Secara diplomatis, dia mengatakan, "Kalau dari keluarganya, dari keluarga baik, jujur. Buat saya harus dicari yang jujur. Jujur yang pertama, yang kedua pintar," imbuh politisi yang sudah menjadi anggota DPR sejak awal era Orde Baru itu.

Meski demikian, kata Sabam, pihaknya saat ini masih harus menimbang nama-nama lain yang sudah beredar, seperti Gus Irawan. "Karena harus mempertimbangkan beberapa orang," imbuh ayah politisi muda PDIP Maruarar Sirait itu. Juga mesti dibicarakan di internal partai banteng moncong putih itu.

Sabam mengatakan, faktor lain yang juga akan menjadi pertimbangan PDIP adalah komposisi heteregonitas pasangan cagub-cawagub. "Kalau cagubnya Batak, wakilnya Jawa, atau sebaliknya, Jawa-Batak. Karena itulah realitas politiknya. Jangan dikira orang Jawa itu sedikit di Sumut," kata Sabam.

Pernyataan Sabam terkait dengan prediksi pemerhati politik lokal, DR Umar Syadat Hasibuan kepada JPNN ini di Jakarta, 1 Maret 2012 lalu.  Pria asal Labuhanbatu yang cukup dekat dengan pusat kekuasaan di Jakarta ini menilai, pemilukada untuk memilih gubernur dan wakil gubernur Sumut pada 2013 diprediksi bakal menjadi ajang pertarungan tiga kandidat, yakni Gus Irawan, RE Nainggolan, dan Gatot Pujo Nugroho.  Untuk kandidat lain, seperti AY Nasution, tidak masuk dalam perhitungan dalam rivalitas itu.

Hanya saja, menurut Umar, dari ketiga kandidat kuat itu, pertarungan nantinya mengerucut pada Gus Irawan lawan RE Nainggolan.

Umar berkeyakinan, Gus Irawan bakal diusung Partai Golkar.  Ini lantaran Gus sudah punya kedekatan dengan Golkar, antara lain karena abangnya, Bomer Pasaribu, merupakan politisi senior Golkar.

Dia juga yakin, RE Nainggolan bakal ikut maju sebagai cagub. Peluang RE Nainggolan juga sama besar dengan Gus. Alasannya, mantan sekdaprov Sumut ini merupakan satu-satunya tokoh yang saat ini bisa mewakili masyarakat Tapanuli bagian utara.

RE Nainggolan, kata Umar, bisa saja nanti diusung oleh Partai Demokrat. "Karena saya tahu Pak RE Nainggolan itu punya kedekatan khusus dengan Pak TB Silalahi, yang saat ini ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat yang juga sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat," ujar Umar, yang juga merupakan aktivis muda yang dekat dengan jajaran petinggi Demokrat.

Bahkan, lanjutnya, PDI Perjuangan sangat berpeluang ikut mengusung RE Nainggolan. "Karena sampai saat ini PDIP juga terlihat belum punya calon. Nyaris hanya PKS yang sudah jelas calonnya, yakni Gatot," imbuhnya. (sam/jpnn)

hostgator coupon

Maret 03, 2012

Jelang Pilgubsu 2013



Jelang Pilgubsu 2013, RE Nainggolan Vs Gus Irawan Pasaribu.RE Nainggolan diusung PDI-P,Demokrat,PDS sedangkan Gus Irawan Diusung Partai Golkar
Medan – Pilgubsu 2013 diprediksi bakal menjadi ajang pertarungan tiga kandidat, yakni Gus Irawan, RE Nainggolan, dan Gatot Pujo Nugroho. Untuk kandidat lain, seperti AY Nasution, tidak masuk dalam perhitungan dalam rivalitas itu.

Demikian disampaikan pemerhati politik lokal, DR Umar Syadat Hasibuan kepada Sumut Pos di Jakarta, kemarin (1/3). Pria asal Labuhanbatu yang cukup dekat dengan pusat kekuasaan di Jakarta ini menilai, dari ketiga kandidat kuat itu, pertarungan nantinya mengerucut pada Gus Irawan lawan RE Nainggolan.

Umar berkeyakinan, Gus Irawan bakal diusung Partai Golkar. Ini lantaran Gus sudah punya kedekatan dengan Golkar, antara lain karena abangnya, Bomer Pasaribu, merupakan politisi senior Golkar. “Posisi Gus Irawan juga diuntungkan dengan kondisi saat ini dimana tokoh Golkar Sumut tidak ada yang menonjol,” ujar Umar Hasibuan.
Dia juga yakin, RE Nainggolan bakal ikut maju sebagai cagub. Peluang RE Nainggolan juga sama besar dengan Gus. Alasannya, mantan sekdaprov Sumut ini merupakan satu-satunya tokoh yang saat ini bisa mewakili masyarakat Tapanuli bagian utara.
RE Nainggolan, kata Umar, bisa saja nanti diusung oleh Partai Demokrat. “Karena saya tahu Pak RE Nainggolan itu punya kedekatan khusus dengan Pak TB Silalahi, yang saat ini ketua Komisi Pengawas Partai Demokrat yang juga sekretaris Dewan Pembina Partai Demokrat,” ujar Umar, yang juga merupakan aktivis muda yang dekat dengan jajaran petinggi Demokrat.
Bahkan, lanjutnya, PDI Perjuangan sangat berpeluang ikut mengusung RE Nainggolan. “Karena sampai saat ini PDIP juga terlihat belum punya calon. Nyaris hanya PKS yang sudah jelas calonnya, yakni Gatot,” imbuhnya.
AY tak Ada Peluang
Bagaimana dengan AY Nasution? Umar dengan enteng menjawab,”tidak punya peluang.”

Terkait dengan itu, kemarin Mabes TNI mengeluarkan siaran pers mengenai langkah Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono mengeluarkan Surat Telegram (ST) Nomor: ST /175/2012 tanggal 17 Februari 2012 yang berisi instruksi agar untuk menjaga kenetralitasan itu.

Kadispenum Puspen TNI, Kolonel Cpl Minulyo Suprapto menjelaskan, surat perintah itu dikeluarkan sebagai sikap TNI yang menjunjung tinggi netralitas dalam Pemilu dan Pemilukada serta mengantisipasi gejolak sosial yang mungkin timbul di wilayahnya.

Surat juga memerintahkan kepada setiap pimpinan atau komandan atau atasan berkewajiban untuk memberikan pemahaman tentang netralitas TNI dengan mempedomani buku netralitas TNI tahun 2008 kepada anggota atau bawahannya dan bertanggung jawab atas pelaksanaannya di lapangan.
Pengamat politik yang juga Koordinator Komite untuk Pemilih Indonesia (TepI), Jeirry Sumampouw, menduga, keluarnya surat perintah dari Panglima TNI itu terkait dengan langkah-langkah Pangkostrad Letjen TNI AY Nasution yang sudah bergerak mempersiapkan diri maju sebagai calon gubernur Sumut.

Menurut Jeiry, surat itu pula yang membuat AY Nasution berubah sikap. Seperti diberitakan, usai mengikuti acara temu ramah dengan Wali Kota Medan Rahudman Harahap dan berbagai elemen lainnya di Wisma Benteng, Jalan Kapten Maulana Lubis, Rabu (29/2), AY menyatakan tidak pernah punya niat maju sebagai calon gubernur Sumut.

“Saya tidak pernah berkomitmen di Pilgubsu 2013. Saya tidak pernah. Saya tidak pernah berkomitmen untuk maju di Pilgubsu 2013,” kata pria kelahiran Medan, 26 Maret 1954 itu.

Padahal, sepekan sebelumnya AY Nasution, begitu semangat menyatakan akan maju sebagai salah satu calon pada Pilgubsu. “Saya siap maju, siap memenuhi panggilan mengabdi di Sumut,” ujar AY Nasution saat menerima award sebagai ‘Tokoh Militer Peduli Pers’n dan ‘Tokoh Low Profile di Hotel Grand Antares, Rabu (22/2) lalu.

Jeirry menduga, langkah-langkah AY Nasution yang mulai ancang-ancang maju sebagai cagub, belum seizin atasannya, dalam hal ini Panglima TNI. Terlebih, kata pria asal Manado itu, TNI merupakan institusi yang sangat ketat menjaga netralitas.

Meski demikian, Jeirry tetap yakin, pada akhirnya nanti AY Nasution tetap akan maju, terlepas apakah nantinya punya partai pengusung atau tidak. Pasalnya, saat pemilukada nanti, AY Nasution sudah tidak lagi menjadi jenderal aktif, alias sudah pensiun.

Apa yang disampaikan AY Nasution bahwa dirinya tidak pernah punya komitmen maju di pilgubsu, hanyalah bahasa diplomatis. “Karena saat ini masih terikat dengan aturan internal TNI. Saya menduga belum ada perintah maju sebagai calon, tapi dia sudah maju. Tapi nanti kalau sudah tidak aktif, dia pasti lebih terbuka lagi,” urai Jeirry.

“Ulang tahun Kostrad dengan menggelar terjun payung di beberapa titik di Sumut itu saya kira tak lazim,” imbuh Jeirry, memberikan alasan mengapa dirinya yakin AY Nasution nantinya tetap akan maju.

Seperti diketahui, AY Nasution tidak lama lagi akan melakukan serah terima jabatan sebagai Pangkostrad, kepada penggantinya, Mayjen TNI Muhamad Munir, yang saat ini sebagai Pangdam III/Siliwangi.

AY Nasution selanjutnya akan menjadi pati Mabes TNI AD. Mutasi AY Nasution ini berdasar Keputusan Panglima TNI Nomor: Kep/96/ II/2012 tanggal 20 Februari 2012 tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI. (sam)
sumber : Harian SIB Medan

Februari 24, 2012

PDIP Lirik Gus Irawan dan RE Nainggolan


PDIP Lirik Gus Irawan dan RE Nainggolan

MedanBisnis – Medan. DPD PDIP Sumut mulai melirik Gus Irawan Pasaribu dan RE Nainggolan menjadi kandidat Gubsu dalam Pilgubsu, 7 Maret 2013. Dirut Bank Sumut dan mantan Sekdapropsu itu dinilai memiliki elektibilitas yang tinggi memenangkan Pilgubsu.

"Dari sejumlah balon Gubsu dan Wagubsu yang sudah muncul ke publik, kedua sosok tersebut lebih unggul dan layak bertarung di Pilgubsu. Bahkan jika keduanya dipasangkan, kita yakin akan mampu memenangkan Pilgubsu 2013," kata Plt Ketua DPD PDIP Sumut, Budiman P Nadapdap, di Gedung DPRD Sumut, Jalan Imam Bonjol, Medan, Kamis (19/1).

Ketua Fraksi PDIP DPRD Sumut ini menyatakan, Gus dan RE sama-sama memiliki pengaruh massa di daerahnya masing-masing. RE Nainggolan, misalnya, punya pengaruh besar di kawasan pantai barat Sumut, seperti Taput, Tapteng, Samosir, Tobasa, Pakpak Bharat dan Humbahas.

"Sementara, Gus Irawan sangat berpengaruh di kawasan Tapanuli Bagian Selatan, yakni Tapsel, Padangsidimpuan, Madina, Palas, dan Paluta. Jika keduanya digabungkan, maka memiliki lumbung suara yang besar, ditambah Medan, Deliserdang dan kawasan pantai timur, mengingat keduanya merupakan figur pejabat yang sangat berprestasi di bidangnya masing-masing," katanya.

Untuk memuluskan jalan Gus dan RE maju sebagai calon, PDIP harus menjalin koalisi dengan partai lain guna mengumpulkan dukungan suara atau kursi minimal 15% di DPRD Sumut sebagai salah syarat bisa mengajukan pasangan calon ke KPU Sumut.

Dalam Pemilu 2009, PDIP Sumut hanya berhasil menempatkan 12 orang kadernya duduk di DPRD Sumut atau 12% dari total 100 kursi yang ada di lembaga legislatif itu. Untuk itu, PDIP membuka pintu seluas-luasnya bagi partai lain untuk bergabung, misalnya Golkar. "Mengapa tidak, jika PDIP memiliki calon yang sama dengan Golkar, maka tentu pintu koalisi akan menjadi kenyataan. Apalagi jika kedua sosok ini yang diunggulkan dan dijagokan kedua partai," katanya.

Budiman mengklaim RE Nainggolan sosok yang dekat dengan PDIP. Sedangkan Gus Irawan cenderung ke Golkar. "Jadi, jika kedua sosok ini bergabung, maka diyakini akan menjadi kekuatan besar memenangkan Pilgubsu 2013," katanya.

Tiga Syarat Dalam menetapkan pasangan calon, papar Budiman, PDIP akan melakukan penjaringan dan penyaringan balon. Penjaringan mulai dilakukan Maret 2012.

Dia menyebutkan 3 syarat utama yang harus dipenuhi para balon jika ingin menjadi calon dari PDIP. Yakni, punya komitmen menggratiskan biaya pendidikan, kesehatan dan menyelesaikan kasus tanah. "Ketiganya itu merupakan syarat wajib bagi siapa saja yang ingin dijagokan PDIP pada Pilgubsu, selain syarat-syarat lainnya," kata Budiman.

Menurutnya, ketiga syarat itu langsung menyentuh kehidupan masyarakat. Ketiganya juga merupakan prioritas atau garis perjuangan partai. "PDIP ingin agar Gubsu mendatang melaksanakan perjuangan partai," jelasnya.

Dalam proses Pilgubsu, terang Budiman, PDIP meminta semua pihak agar menciptakan suasana kondusif. Misalnya, jangan melontarkan pernyataaan bernuansa SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), serta putera/nonputera daerah, karena itu mengingkari keutuhan NKRI .
"Indonesia kan NKRI, jadi siapa saja bisa menjadi calon pemimpin daerah sepanjang dia masih warga negara Indonesia.Jadi diharapkan jangan ada pihak yang bermain dengan isu putera/nonputera daerah di pilgubsu," tegasnya. (benny pasaribu)

Februari 23, 2012

Calon Independen Gentarkan Partai Politik


Faisal mengaku tidak takut bersaing dengan siapa saja dalam Pilkada 2012 jika lolos verifikasi. Menurut dia, perjuangan tidak kenal menyerah harus dilakukan demi perbaikan Jakarta agar semakin nyaman untuk ditinggali. Tidak hanya itu, Faisal juga merasa gembira, dengan munculnya calon independen, partai politik kemudian juga bersaing menampilkan nama-nama yang populer dan berprestasi untuk dapat maju di Pilkada 2012. Menurut Faisal, hal tersebut merupakan sinyal positif untuk Pilkada tahun ini.
"Tiba-tiba muncul nama Fadel Muhammad, Alex Noerdin, bahkan Jokowi. Ini sinyal bagus, lho. Yang masuk ke Jakarta adalah orang-orang berprestasi," ujar Faisal.
Banyaknya nama yang memiliki citra baik di masyarakat tentu dapat mendongkrak kembali minat masyarakat untuk ikut menyukseskan Pilkada.
"Masyarakat jadi punya banyak pilihan. Semuanya baik. Masyarakat tinggal pilih yang terbaik. Ini menyenangkan sekali bagi Jakarta," katanya.
Pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur dari partai politik memang belum terlihat. Namun, dari jalur perseorangan sudah ada pasangan calon yang sedang menjalani verifikasi faktual dukungan di kelurahan. Pasangan pertama adalah Faisal Basri-Biem Benyamin, dan pasangan kedua adalah Hendardji Supandji-Achmad Riza Patria.

Template Hits

Labels

Search Wikipedia

Hasil penelusuran